Kesultanan Utsmaniyah (
Turki Utsmaniyah: دولت عليه عثمانیه
Devlet-i ʿAliyye-yi ʿOsmâniyye;
[6] Turki Modern:
Osmanlı İmparatorluğu),
kadang ditulis Kesultanan Turki atau
Turki saja, adalah imperium
lintas benua yang didirikan oleh suku-suku
Turki di bawah pimpinan
Osman Bey di barat laut
Anatolia pada tahun 1299.
[7] Seiring
penaklukan Konstantinopel oleh
Mehmet II tahun 1453, negara Utsmaniyah berubah menjadi kesultanan.
[8][9][10]
Peta bersejarah yang memperlihatkan
eyalet (wilayah administratif) Kesultanan Utsmaniyah di Eropa dan Asia tahun 1890.
Sepanjang abad ke-16 dan 17, tepatnya pada puncak kekuasaannya di bawah pemerintahan
Suleiman Agung,
Kesultanan Utsmaniyah adalah salah satu negara terkuat di dunia,
imperium multinasional dan multibahasa yang mengendalikan sebagian besar
Eropa Tenggara, Asia Barat/Kaukasus, Afrika Utara, dan
Tanduk Afrika.
[11]
Pada awal abad ke-17, kesultanan ini terdiri dari
32 provinsi dan sejumlah
negara vasal,
beberapa di antaranya dianeksasi ke dalam teritori kesultanan,
sedangkan sisanya diberikan beragam tingkat otonomi dalam kurun beberapa
abad.
[dn 5]
Dengan
Konstantinopel sebagai ibu kotanya dan kekuasaannya atas wilayah yang luas di sekitar
cekungan Mediterania, Kesultanan Utsmaniyah menjadi pusat interaksi antara
dunia Timur dan Barat selama lebih dari enam abad. Kesultanan ini bubar pasca
Perang Dunia I. Pembubarannya berujung pada kemunculan rezim politik baru di
Turki, serta pembentukan
Balkan dan Timur Tengah yang baru.
Nama
Dalam
bahasa Turki Utsmaniyah, kesultanan ini disebut
Devlet-i ʿAliyye-yi ʿOsmâniyye (دَوْلَتِ عَلِيّهٔ عُثمَانِیّه),atau
Osmanlı Devleti (عثمانلى دولتى).
[dn 6] Dalam
bahasa Turki Modern, kesultanan ini dikenal dengan sebutan
Osmanlı Devleti atau
Osmanlı İmparatorluğu. Di sejumlah tulisan Barat, nama "Ottoman" dan "
Turkey"
dipakai bergantian. Dikotomi ini secara resmi berakhir pada tahun
1920–23 ketika rezim Turki yang beribu kota di Ankara memilih
Turki sebagai nama resminya. Nama tersebut sudah digunakan penduduk Eropa sejak zaman
Seljuk.
Sejarah
Kebangkitan (1299–1453)
Pasca pembubaran
Kesultanan Rum yang dipimpin
dinasti Seljuq Turki, pendahulu
Utsmaniyah, pada tahun 1300-an,
Anatolia terpecah menjadi beberapa negara merdeka (kebanyakan Turki) yang disebut
emirat Ghazi. Salah satu emirat Ghazi dipimpin oleh
Osman I (1258
[13] – 1326) dan namanya menjadi asal usul nama Utsmaniyah. Osman I memperluas batas permukiman Turki sampai pinggiran
Kekaisaran Bizantium.
Tidak jelas bagaimana Osmanli berhasil menguasai wilayah tetangganya
karena belum banyak diketahui soal sejarah Anatolia abad pertengahan.
[14]
Pada abad setelah kematian Osman I, kekuasaan Utsmaniyah mulai meluas sampai
Mediterania Timur dan
Balkan. Putra Osman,
Orhan, menaklukkan kota
Bursa
pada tahun 1324 dan menjadikannya ibu kota negara Utsmaniyah. Kejatuhan
Bursa menandakan berakhirnya kendali Bizantium atas Anatolia Barat
Laut. Kota
Thessaloniki direbut dari
Republik Venesia pada tahun 1387. Kemenangan Utsmaniyah di
Kosovo tahun 1389 secara efektif mengawali
kejatuhan pemerintahan Serbia di wilayah itu dan membuka jalan untuk perluasan wilayah Utsmaniyah di Eropa.
Pertempuran Nicopolis tahun 1396 yang dianggap luas sebagai
perang salib besar terakhir pada
Abad Pertengahan gagal menghambat laju bangsa Turki Utsmaniyah.
Seiring meluasnya kekuasaan Turki di Balkan,
penaklukan strategis Konstantinopel menjadi tugas penting. Kesultanan ini mengendalikan nyaris seluruh bekas
tanah Bizantium di sekitar kota, namun warga
Yunani Bizantium sempat luput ketika penguasa Turk-Mongolia,
Tamerlane, menyerbu Anatolia dalam
Pertempuran Ankara tahun 1402. Ia menangkap Sultan
Bayezid I.
Penangkapan Bayezid I menciptakan kekacauan di kalangan penduduk Turki.
Negara pun mengalami perang saudara yang berlangsung sejak 1402 sampai
1413 karena para putra Bayezid memperebutkan takhta. Perang berakhir
ketika
Mehmet I naik sebagai sultan dan mengembalikan kekuasaan Utsmaniyah. Kenaikannya juga mengakhiri
Interregnum yang disebut
Fetret Devri dalam
bahasa Turki Utsmaniyah.
Sebagian teritori Utsmaniyah di Balkan (seperti Thessaloniki,
Makedonia, dan Kosovo) sempat terlepas setelah 1402, tetapi berhasil
direbut kembali oleh
Murad II antara 1430-an dan 1450-an. Pada tanggal 10 November 1444, Murad II mengalahkan pasukan Hongaria, Polandia, dan
Wallachia yang dipimpin
Władysław III dari Polandia (sekaligus Raja Hongaria) dan
János Hunyadi di
Pertempuran Varna, pertempuran terakhir dalam
Perang Salib Varna.
[15][16][halaman dibutuhkan]
Empat tahun kemudian, János Hunyadi mempersiapkan pasukannya (terdiri
dari pasukan Hongaria dan Wallachia) untuk menyerang Turki, namun
dikalahkan oleh Murad II dalam
Pertempuran Kosovo Kedua tahun 1448.
Perkembangan (1453–1683)
Perluasan dan puncak (1453–1566)
Putra Murad II,
Mehmed II, menata ulang negara dan militernya, lalu menaklukkan
Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453. Mehmed mengizinkan
Gereja Ortodoks mempertahankan otonomi dan tanahnya dengan imbalan mengakui pemerintahan Utsmaniyah.
[17]
Karena hubungan yang buruk antara negara-negara Eropa Barat dan
Kekaisaran Romawi Timur, banyak penduduk Ortodoks yang mengakui
kekuasaan Utsmaniyah alih-alih Venesia.
[17]
Pada abad ke-15 dan 16, Kesultanan Utsmaniyah memasuki
periode ekspansi. Kesultanan ini berhasil makmur di bawah kepemimpinan sejumlah
Sultan
yang tegas dan efektif. Ekonominya juga maju karena pemerintah
mengendalikan rute-rute perdagangan darat utama antara Eropa dan Asia.
[18][dn 7]
Sultan
Selim I (1512–1520) memperluas batas timur dan selatan Kesultanan Utsmaniyah secara dramatis dengan mengalahkan
Shah Ismail dari
Persia Safavid dalam
Pertempuran Chaldiran.
[19] Selim I mendirikan
pemerintahan Utsmaniyah di Mesir dan mengerahkan angkatan lautnya ke
Laut Merah. Setelah ekspansi tersebut, persaingan pun pecah antara
Kekaisaran Portugal dan Kesultanan Utsmaniyah yang sama-sama berusaha menjadi kekuatan besar di kawasan itu.
[20]
Suleiman Agung (1520–1566) mencaplok
Belgrade tahun 1521, menguasai wilayah selatan dan tengah
Kerajaan Hongaria sebagai bagian dari
Peperangan Utsmaniyah–Hongaria.
[22][23][tak ada di rujukan] Setelah memenangkan
Pertempuran Mohács
tahun 1526, ia mendirikan pemerintahan Turki di wilayah yang sekarang
disebut Hongaria (kecuali bagian baratnya) dan teritori Eropa Tengah
lainnya. Ia kemudian
mengepung Wina tahun 1529, tetapi gagal.
[24] Tahun 1532, ia melancarkan
serangan lain ke Wina, namun dikalahkan pada
Pengepungan Güns.
[25][26][27] Transylvania,
Wallachia, dan
Moldavia (sementara) menjadi kepangeranan bawahan Kesultanan Utsmaniyah. Di sebelah timur, bangsa Turk Utsmaniyah merebut
Baghdad dari
Persia pada tahun 1535, menguasai
Mesopotamia, dan mendapatkan akses laut ke
Teluk Persia.
Perancis dan Kesultanan Utsmaniyah bersatu karena sama-sama menentang pemerintahan
Habsburg dan menjadi sekutu yang kuat. Penaklukan
Nice (1543) dan
Corsica (1553) oleh Perancis adalah hasil kerja sama antara pasukan raja
Francis I dari Perancis dan Suleiman. Pasukan tersebut dipimpin oleh laksamana Utsmaniyah
Barbarossa Hayreddin Pasha dan
Turgut Reis.
[28] Satu bulan sebelum pengepungan Nice, Perancis membantu Utsmaniyah dengan mengirimkan satu unit artileri pada
penaklukan Esztergom tahun 1543. Setelah bangsa Turk membuat serangkaian kemajuan tahun 1543, penguasa Habsburg
Ferdinand I secara resmi mengakui pemerintahan Utsmaniyah di Hongaria pada tahun 1547.
Pada tahun 1559, setelah
perang Ajuuraan-Portugal pertama, Kesultanan Utsmaniyah menganeksasi
Kesultanan Adal yang lemah ke dalam wilayahnya. Ekspansi ini mengawali pemerintahan Utsmaniyah di
Somalia dan
Tanduk Afrika. Aneksasi tersebut juga meningkatkan pengaruh Utsmaniyah di Samudra Hindia untuk bersaing dengan
Portugal.
[29]
Pada akhir masa kekuasaan Suleiman, jumlah penduduk Kesultanan Utsmaniyah mencapai 15.000.000 orang dan tersebar di tiga benua. Selain itu, kesultanan ini menjadi kekuatan laut besar yang mengendalikan sebagian besar
Laut Mediterania.
[31]
Saat itu, Kesultanan Utsmaniyah adalah bagian utama dari lingkup
politik Eropa. Kesuksesan politik dan militernya sering disamakan dengan
Kekaisaran Romawi, salah satunya oleh cendekiawan Italia
Francesco Sansovino dan filsuf politik Perancis
Jean Bodin.
[32]
Pemberontakan dan pemulihan (1566–1683)
Struktur militer dan birokrasi yang efektif pada abad sebelumnya
terancam gagal ketika sultan-sultan selanjutnya tidak tegas memimpin.
Kesultanan Utsmaniyah perlahan dikalahkan bangsa Eropa dari segi
teknologi militer karena inovasi yang mendorong perluasan kesultanan ini
dihambat oleh paham konservatisme agama dan intelektual yang terus
berkembang. Meski mengalami kesulitan, kesultanan ini tetap menjadi kekuatan ekspansionis besar sampai
Pertempuran Wina tahun 1683 yang menandakan akhir
ekspansi Utsmaniyah ke Eropa.
Penemuan rute dagang laut baru oleh negara-negara Eropa Barat
memungkinkan mereka menghindari monopoli dagang Utsmaniyah. Penemuan
Tanjung Harapan Baik oleh
Portugal tahun 1488 merintis
serangkaian perang laut Utsmaniyah-Portugal di Samudra Hindia sepanjang abad ke-16. Dari segi ekonomi,
pemasukan perak Spanyol dari
Dunia Baru mengakibatkan mata uang Utsmaniyah mengalami devaluasi tajam dan inflasi tinggi.
[rujukan?]
Di bawah kepemimpinan
Ivan IV (1533–1584),
Kekaisaran Rusia meluas sampai kawasan Volga dan Kaspia dengan menaklukkan beberapa kekhanan Tatar. Pada tahun 1571, khan Krimea
Devlet I Giray yang didukung Utsmaniyah
membakar Moskwa.
[34] Tahun berikutnya, invasi diulang namun digagalkan pada
Pertempuran Molodi.
Kekhanan Krimea terus menyerbu Eropa Timur melalui serangkaian
serangan budak[35] dan menjadi kekuatan besar di Eropa Timur sampai akhir abad ke-17.
[36]
Di Eropa Selatan, koalisi Katolik yang dipimpin
Philip II dari Spanyol mengalahkan armada Utsmaniyah di
Pertempuran Lepanto. Ini merupakan pukulan telak dan simbolis
terhadap citra kehebatan Utsmaniyah. Memudarnya citra ini diawali oleh
kemenangan Ksatria Malta atas pasukan Utsmaniyah dalam Pengepungan Malta
tahun 1565.
[38]
Pertempuran Lepanto membuat Angkatan Laut Utsmaniyah kehilangan banyak
tenaga ahlinya, sedangkan kapal-kapalnya masih bisa diperbaiki.
[39]
Angkatan Laut Utsmaniyah pulih dengan cepat dan memaksa Venesia
menandatangani perjanjian damai tahun 1573 yang mengizinkan Kesultanan
Utsmaniyah memperluas dan memperkuat posisinya di Afrika Utara.
Sebaliknya, wilayah
Habsburg tidak berubah setelah pertahanan Habsburg diperkuat.
Perang Panjang melawan Austria
Habsburg
(1593–1606) membuat pemerintah melengkapi infanterinya dengan senjata
api dan melonggarkan kebijakan perekrutan. Keputusan ini menciptakan
masalah ketidakpatuhan dan pemberontakan di dalam tubuh militer yang
tidak pernah terselesaikan. Penembak jitu ireguler (
Sekban) juga direkrut. Demobilisasi pun berubah menjadi
brigandase (perampokan) dalam
pemberontakan Jelali (1595–1610) yang memperluas aksi anarkis di
Anatolia pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17.
[43] Ketika populasi kesultanan mencapai 30.000.000 jiwa pada tahun 1600, kelangkaan tanah membuat pemerintah ditekan habis-habisan.
Pada masa kekuasaannya yang singkat,
Murad IV (1612–1640) membentuk kembali pemerintahan pusat dan merebut
Yerevan (1635) dan Baghdad (1639) dari
Safavid.
Kesultanan wanita
(1648–1656) adalah periode ketika ibu para sultan muda berkuasa atas
nama putranya. Tokoh wanita yang paling berpengaruh waktu itu adalah
Kösem Sultan dan menantunya
Turhan Hatice. Persaingan politik mereka berujung pada pembunuhan Kösem pada 1651. Selama
Era Köprülü (1656–1703), pemerintahan efektif dijalankan oleh sejumlah
Wazir Agung dari keluarga Köprülü. Kewaziran Köprülü mengalami kesuksesan militer dengan didirikannya pemerintahan di
Transylvania, penaklukan
Kreta tahun 1669, dan ekspansi ke
Ukraina selatan Polandia. Pertahanan terakhir
Khotyn dan
Kamianets-Podilskyi dan teritori
Podolia bergabung dengan Kesultanan Utsmaniyah tahun 1676.
Periode ketegasan baru ini berakhir pada Mei 1683 saat Wazir Agung
Kara Mustafa Pasha memimpin pasukan besar untuk mengepung
Wina kedua kalinya dalam
Perang Turki Besar
1683–1687. Serangan terakhir mereka tertunda karena pasukan Utsmaniyah
didesak mundur oleh pasukan sekutu Habsburg, Jerman, dan Polandia yang
dipimpin Raja Polandia
Jan III Sobieski pada
Pertempuran Wina. Aliansi
Liga Suci terus melaju pasca kekalahan di Wina dan memuncak pada
Perjanjian Karlowitz (26 Januari 1699) yang mengakhiri Perang Turki Besar. Kesultanan Utsmaniyah menyerahkan sejumlah wilayah pentingnya, kebanyakan diserahkan secara permanen.
Mustafa II (1695–1703) memimpin serangan balasan terhadap Wangsa Habsburg di Hongaria pada 1695–96, namun kalah besar di
Zenta (11 September 1697).
Kemandekan dan reformasi (1683–1827)
Pada periode ini,
ekspansi Rusia membawa ancaman besar yang terus berkembang. Karena itu, Raja
Charles XII dari Swedia diterima sebagai sekutu Kesultanan Utsmaniyah setelah pasukannya dikalahkan Rusia pada
Pertempuran Poltava tahun 1709 (bagian dari
Perang Utara Besar 1700–1721.) Charles XII mendesak Sultan Utsmaniyah
Ahmed III untuk menyatakan perang terhadap Rusia. Utsmaniyah berhasil memenangkan
Kampanye Sungai Pruth yang berlangsung pada 1710–1711. Pasca
Perang Austria-Turki 1716–1718,
Perjanjian Passarowitz mencantumkan penyerahan wilayah
Banat, Serbia, dan
"Walachia Kecil" (Oltenia)
ke Austria. Perjanjian ini juga menyebutkan bahwa Kesultanan Utsmaniyah
mengambil sikap defensif dan tidak mungkin melakukan agresi lagi di
Eropa.
Perang Austria-Rusia–Turki yang diakhiri oleh
Perjanjian Belgrade
1739 berujung pada kembalinya Serbia dan Oltenia, namun pelabuhan Azov
berhasil direbut Rusia. Setelah perjanjian ini, Kesultanan Utsmaniyah
menikmati masa perdamaian karena Austria dan Rusia terpaksa menghadapi
kebangkitan
Prusia.
Sejumlah
reformasi pendidikan dan teknologi dilaksanakan, termasuk pendirian institusi pendidikan tinggi seperti
Universitas Teknik Istanbul.
[55]
Pada tahun 1734, sebuah sekolah artileri didirian untuk memperkenalkan
metode artileri Barat, namun kalangan ulama Islam mengajukan keberatan
atas dasar
teodisi.
[56] Tahun 1754, sekolah artileri tersebut dibuka kembali secara setengah rahasia.
[56] Tahun 1726,
Ibrahim Muteferrika meyakinkan
Wazir Agung Nevşehirli Damat İbrahim Pasha,
Mufti Agung,
dan para ulama tentang efisiensi percetakan. Muteferrika pun diizinkan
Sultan Ahmed III untuk menerbitkan buku-buku non-religius meski
ditentang sejumlah
kaligrafer dan pemuka agama.
[57]
Percetakan Muteferrika menerbitkan buku pertamanya pada tahun 1729.
Pada 1743, jumlah karya yang dicetaknya mencapai 17 buah dalam 23 volume
dan masing-masing karya dicetak sebanyak 500 sampai 1.000 eksemplar.
[57][58]
Pada 1768, para
Haidamak, pemberontak konfederasi Polandia yang dibantu Rusia, memasuki
Balta,
kota Utsmaniyah di perbatasan Bessarabia, dan membantai warganya dan
membumihanguskan kota tersebut. Tindakan ini memaksa Kesultanan
Utsmaniyah memulai
Perang Rusia-Turki 1768–1774.
Perjanjian Küçük Kaynarca tahun 1774 mengakhiri perang ini dan memberikan kebebasan beribadah bagi warga Kristen di provinsi Wallachia dan Moldavia.
Pada akhir abad ke-18, serangkaian kekalahan perang melawan Rusia
membuat beberapa kalangan di Kesultanan Utsmaniyah yakin bahwa reformasi
yang dijalankan
Peter Agung memberi keunggulan bagi Rusia, dan Utsmaniyah harus menggunakan teknologi Barat untuk menghindari kekalahan lebih lanjut.
[56]
Selim III (1789–1807) melakukan upaya besar pertama dalam
memodernisasi pasukannya, tetapi reformasi ini terhambat oleh kepemimpinan yang religius dan korps
Yanisari. Karena iri dengan hak-hak militer dan menolak perubahan, Yanisari pun merintis
pemberontakan.
Semua upaya Selim membuat dirinya kehilangan takhta dan nyawanya. Akan
tetapi, pemberontakan ini berhasil diredam dengan spektakuler dan kejam
oleh penggantinya yang dinamis,
Mahmud II. Ia
menghapus korps Yanisari pada tahun 1826.
Revolusi Serbia (1804–1815) menjadi awal era
kebangkitan nasional di kawasan
Balkan pada masa
Pertanyaan Timur.
Suzeraintas Serbia sebagai monarki herediter dengan
dinastinya sendiri diakui secara
de jure pada tahun 1830.
[60][61] Pada 1821,
bangsa Yunani menyatakan perang terhadap Sultan. Pemberontakan yang pecah di Moldavia sebagai bentuk pengalihan diikuti oleh revolusi utama di
Peloponnesos. Peloponnesos dan bagian utara
Teluk Korintus
menjadi wilayah Kesultanan Utsmaniyah pertama yang merdeka, tepatnya
pada tahun 1829. Pada pertengahan abad ke-19, Kesultanan Utsmaniyah
dijuluki
"orang sakit" oleh bangsa Eropa.
Negara-negara suzerain (
Kepangeranan Serbia, Wallachia,
Moldavia, dan
Montenegro) meraih kemerdekaan
de jure pada 1860-an dan 1870-an.
Kemunduran dan modernisasi (1828–1908)
Pada masa
Tanzimat (1839–1876), serangkaian reformasi konstitusional pemerintah membuahkan hasil, yaitu
pasukan wajib militer modern, reformasi sistem perbankan, dekriminalisasi kaum homoseksual, perubahan hukum agama menjadi hukum sekuler,
[62] dan
gilda yang memiliki pabrik modern. Kementerian Pos Utsmaniyah dibentuk di Istanbul pada tanggal 23 Oktober 1840.
[63][64]
Samuel Morse menerima paten
telegraf pertamanya tahun 1847. Paten tersebut dikeluarkan oleh Sultan
Abdülmecid yang secara langsung menguji penemuan baru itu.
[65] Setelah uji coba berhasil, jalur kabel telegraf pertama di dunia (Istanbul-
Adrianopel-
Şumnu)
[66] mulai dipasang pada 9 Agustus 1847.
[67] Periode reformis ini memuncak dengan penyusunan Konstitusi yang disebut
Kanûn-u Esâsî.
Era Konstitusional Pertama kesultanan ini tidak berlangsung lama. Parlemennya hanya bertahan selama dua tahun sebelum dibubarkan sultan.
Dikarenakan tingkat pendidikannya yang lebih tinggi, penduduk Kristen
di kesultanan ini mulai unggul ketimbang penduduk Muslim yang
mayoritas, sehingga penduduk Muslim merasa tidak puas.
[68]
Pada tahun 1861, ada 571 sekolah dasar dan 94 sekolah menengah Kristen
Utsmaniyah dengan 140.000 siswa. Jumlah itu jauh melampaui siswa Muslim
di sekolah pada saat yang sama. Kemajuan siswa Muslim terus melambat
dikarenakan lamanya waktu mata pelajaran bahasa Arab dan teologi Islam.
[68] Tingkat pendidikan siswa Kristen yang lebih tinggi memungkinkan mereka memainkan peran penting dalam perekonomian negara.
[68] Pada tahun 1911, 528 dari 654 perusahaan grosir di Istanbul dimiliki etnis Yunani.
[68]
Perang Krimea (1853–1856) adalah bagian dari persaingan panjang antara kekuatan-kekuatan besar Eropa yang memperebutkan pengaruh di teritori
Kesultanan Utsmaniyah yang melemah. Beban perang dari segi finansial memaksa pemerintah Utsmaniyah mengajukan
pinjaman luar negeri senilai 5 juta pound sterling pada 4 Agustus 1854.
[69][70] Perang ini mengakibatkan eksodus warga
Tatar Krimea. Sekitar 200.000 di antaranya pindah ke Kesultanan Utsmaniyah dalam bentuk gelombang emigrasi.
[71] Menjelang akhir
Peperangan Kaukasus, 90% etnis
Sirkasia dilenyapkan,
[72] diusir dari tanah airnya di
Kaukasus, dan terpaksa mengungsi ke Kesultanan Utsmaniyah.
[73] Sekitar 500.000 sampai 700.000 orang Sirkasia berlindung di Turki.
[74][halaman dibutuhkan][75][76] Beberapa sumber memberi angka yang lebih tinggi, yaitu 1 juta-1,5 juta orang dideportasi dan/atau dibunuh.
[77]
Perang Rusia-Turki (1877–1878) berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Rusia. Akibatnya, wilayah Utsmaniyah di Eropa menyusut dengan cepat.
Bulgaria didirikan sebagai kepangeranan merdeka di dalam Kesultanan Utsmaniyah,
Rumania mendapat kemerdekaan penuh.
Serbia dan
Montenegro mendapat kemerdekaan penuh dengan wilayah yang lebih kecil. Pada tahun 1878,
Austria-Hongaria bersama-sama menduduki provinsi
Bosnia-Herzegovina dan
Novi Pazar. Walaupun pemerintah Utsmaniyah menentang tindakan ini, pasukannya dikalahkan dalam kurun tiga minggu.
Sebagai imbalan atas bantuan
Perdana Menteri Britania Raya Benjamin Disraeli
dalam pengembalian teritori Utsmaniyah di Semenanjung Balkan saat
Kongres Berlin, Britania Raya mendapatkan hak pemerintahan di
Siprus pada tahun 1878.
[78] Britania kemudian mengirimkan tentaranya ke
Mesir pada tahun 1882 untuk membantu pemerintah Utsmaniyah meredam
Pemberontakan Urabi. Britania pun memegang kendali penuh di Siprus dan Mesir.
Pada 1894–96, sekitar 100.000 sampai 300.000 etnis Armenia yang
tinggal di seluruh kesultanan dibunuh dalam sebuah peristiwa yang
disebut
pembantaian Hamidian.
[79]
Seiring menyusutnya wilayah Kesultanan Utsmaniyah, banyak Muslim
Balkan pindah ke teritori Utsmaniyah yang tersisa di Balkan atau ke
jantung kesultanan di Anatolia.
[80] Per 1923, hanya Anatolia dan
Thracia Timur yang dikuasai Muslim.
[81]
Kekalahan dan pembubaran (1908–1922)
Era Konstitusional Kedua dimulai pasca
Revolusi Turk Muda (3 Juli 1908) melalui pengumuman sultan tentang penggunaan kembali
konstitusi 1876 dan pembentukan kembali Parlemen Utsmaniyah. Pengumuman ini menjadi awal
pembubaran Kesultanan Utsmaniyah. Era ini didominasi oleh politik
Komite Persatuan dan Kemajuan serta gerakan yang kelak dikenal dengan sebutan
Turk Muda.
Memanfaatkan perpecahan sipil,
Austria-Hongaria secara resmi menganeksasi
Bosnia dan Herzegovina tahun 1908, tetapi mereka menarik tentaranya dari
Sanjak Novi Pazar, wilayah lain yang diperebutkan Austria dan Utsmaniyah, untuk menghindari perang. Pada
Perang Italia-Turki (1911–12), Kesultanan Utsmaniyah kehilangan
Libya dan
Liga Balkan menyatakan perang terhadap Kesultanan Utsmaniyah. Utsmaniyah kalah dalam
Peperangan Balkan (1912–13) dan kehilangan teritori
Balkan-nya kecuali
Thracia Timur dan ibu kota historis
Adrianopel.
Sekira 400.000 Muslim yang khawatir menghadapi kekerasan etnis Yunani,
Serbia, atau Bulgaria, mengungsi mundur bersama pasukan Utsmaniyah.
[82]
Menurut perkiraan Justin McCarthy, sejak 1821 sampai 1922, pembersihan
etnis Muslim Utsmaniyah di Balkan mengakibatkan kematian dan pengusiran
sekian juta orang dari kawasan itu.
[83][84][85]
Per 1914, Kesultanan Utsmaniyah sudah dipuul mundur dari hampir seluruh
Eropa dan Afrika Utara. Meski begitu, kesultanan ini masih dihuni 28
juta orang. 15,5 juta di antaranya di Turki modern, 4,5 juta di Suriah,
Lebanon, Palestina, dan Yordania, dan 2,5 juta di Irak. 5,5 juta sisanya
berada di bawah pemerintahan bayangan Utsmaniyah di jazirah Arab.
[86]
Pada November 1914, Kesultanan Utsmaniyah ikut serta dalam
Perang Dunia I di blok
Kekuatan Tengah. Kesultanan ini ambil bagian dalam
teater Timur Tengah. Utsmaniyah sempat beberapa kali menang pada tahun-tahun pertama perang, misalnya di
Pertempuran Gallipoli dan
Pengepungan Kut, namun ada juga kekalahan seperti pada
Kampanye Kaukasus melawan Rusia. Amerika Serikat tidak pernah mengeluarkan pernyataan perang terhadap Kesultanan Utsmaniyah.
[87]
Tahun 1915, saat
Angkatan Darat Kaukasus Rusia terus merangsek ke Anatolia timur,
[88] dibantu sejumlah
milisi Armenia Utsmaniyah, pemerintah Utsmaniyah mulai men
deportasi dan membantai penduduk etnis Armenia. Aksi ini kemudian dikenal dengan nama
Genosida Armenia.
[89] Aksi genosida juga dilakukan terhadap etnis minoritas
Yunani dan
Assyria.
[90]
Pemberontakan Arab
yang dimulai tahun 1916 berbalik melawan Utsmaniyah di front Timur
Tengah. Utsmaniyah sempat unggul di Timur Tengah selama dua tahun
pertama perang.
Gencatan Senjata Mudros yang ditandatangani pada 30 Oktober 1918 mengakhiri peperangan di teater Timur Tengah, diikuti
pendudukan Konstantinopel dan
pemecahan Kesultanan Utsmaniyah. Dengan
Perjanjian Sèvres,
pemecahan Kesultanan Utsmaniyah menjadi resmi. Pada kuartal terakhir
abad ke-19 dan awal abad ke-20, sekitar 7–9 juta pengungsi Muslim Turki
dari wilayah
Kaukasus,
Krimea,
Balkan, dan pulau-pulau
Mediterania pindah ke
Anatolia dan
Thracia Timur.
[91]
Pendudukan Konstantinopel dan
İzmir melahirkan
gerakan nasional Turki yang memenangkan
Perang Kemerdekaan Turki (1919–22) di bawah pimpinan
Mustafa Kemal Pasha (atau Mustafa Kemal Atatürk). Kesultanan dibubarkan tanggal 1 November 1922, dan sultan terakhirnya,
Mehmed VI (berkuasa 1918–22), meninggalkan negara ini pada 17 November 1922.
Majelis Agung Nasional Turki mendeklarasikan
Republik Turki pada tanggal 29 Oktober 1923. Kekhalifahan dibubarkan tanggal 3 Maret 1924.
[92]
Pemerintahan
Tata negara Kesultanan Utsmaniyah
adalah sistem yang sangat sederhana dan terbagi menjadi dua dimensi
utama, pemerintahan militer dan pemerintahan sipil. Sultan adalah
jabatan tertinggi dalam sistem ini. Sistem sipil dibuat berdasarkan
unit-unit pemerintahan daerah yang didasarkan pada karakteristik
wilayahnya. Kesultanan Utsmaniyah menggunakan sistem negara (seperti
Kekaisaran Romawi Timur) menguasai kaum ulama. Tradisi-tradisi Turki
pra-Islam yang bertahan setelah adopsi praktik administrasi dan hukum
dari
Iran Islam masih berperan penting bagi pemerintah Utsmaniyah.
Menurut pemahaman Utsmaniyah, tugas utama negara adalah mempertahankan
dan memperluas tanah Muslim dan menjamin keamanan dan keselarasan di
dalam perbatasannya sesuai konteks praktik Islam
ortodoks dan kedaulatan dinasti.
[94]
"
Dinasti Utsmaniyah" atau "
Wangsa Osman" tak terbandingkan dan tak terlampaui ukuran maupun durasinya di dunia Islam.
[95]
Dinasti Utsmaniyah berasal dari Turki. Sebelas sultan pernah
digulingkan karena dianggap sebagai ancaman bagi negara oleh
musuh-musuhnya. Hanya dua upaya penggulingan dinasti penguasa Osmanlı
yang pernah terjadi. Dua-duanya gagal dan mendesak perlunya sistem
politik yang dalam perpanjangan periodenya mampu menangani revolusi
tanpa menciptakan ketidakstabilan yang tidak perlu.
[94]
Jabatan tertinggi dalam Islam,
khalifah, diklaim oleh sultan sehingga negaranya juga menyandang nama
Kekhalifahan Utsmaniyah. Sultan Utsmaniyah,
pâdişâh
atau "rajanya raja", menjadi pemimpin tunggal kesultanan dan dianggap
sebagai perwakilan pemerintahannya, meski kendalinya tidak selalu
mutlak.
Harem Kesultanan adalah salah satu kekuatan terpenting dalam pemerintahan Utsmaniyah. Lembaga ini dipimpin oleh
Valide Sultan.
Kadang Valide Sultan terlibat dalam perpolitikan negara. Wanita harem
pernah mengendalikan negara pada suatu periode yang disebut "
Kesultanan Wanita". Sultan baru selalu dipilih dari putra sultan sebelumnya. Sistem pendidikan
sekolah istana
yang kuat diarahkan untuk mengeliminasi calon pewaris yang tidak cocok
dan menggalang dukungan elit penguasa terhadap seorang pewaris. Sekolah
istana yang juga mendidik calon pejabat negara tidak bersifat jalur
tunggal. Jalur pertama,
madrasah (
Turki Utsmaniyah:
Medrese),
dirancang untuk umat Islam dan mendidik cendekiawan dan pejabat negara
sesuai tradisi Islam. Beban keuangan Medrese ditanggung oleh vakif,
sehingga anak-anak keluarga miskin bisa menaikkan status sosial dan
pendapatannya.
[96] Jalur kedua adalah
sekolah asrama gratis untuk umat Kristen,
Enderûn,
[97]
yang merekrut 3.000 siswa tiap tahunnya dari kalangan putra Kristen
antara 8 sampai 20 tahun dari satu sampai empat puluh keluarga di
komunitas-komunitas di
Rumelia dan/atau Balkan. Proses ini disebut
Devshirme (
Devşirme).
[98]
Meski sultan adalah monark tertinggi, kewenangan politik dan
eksekutif sultan didelegasikan ke orang lain. Politik negara melibatkan
sejumlah penasihat dan menteri yang membentuk dewan bernama
Divan (setelah abad ke-17 namanya berubah menjadi "
Porte"). Divan, ketika negara Utsmaniyah masih berupa
Beylik,
terdiri dari para tetua suku. Komposisinya kemudian diubah agar
melibatkan pejabat militer dan elit lokal (seperti penasihat keagamaan
dan politik). Sejak awal 1320, seorang
Wazir Agung
ditunjuk untuk melanjutkan tugas-tugas tertentu sultan. Wazir Agung
terbebas dari sultan dan memegang kuasa penunjukan, pemecatan, dan
pengawasan yang nyaris tidak terbatas. Mulai akhir abad ke-16, sultan
menarik diri dari politik dan Wazir Agung menjadi kepala negara
de facto.
[99]
Sepanjang sejarah Utsmaniyah, ada banyak kejadian ketika gubernur
lokal mengambil tindakan secara independen sekalipun bertentangan dengan
penguasa. Pasca Revolusi Turk Muda tahun 1908, negara Utsmaniyah
menjadi monarki konstitusional. Sultan tidak lagi memegang kekuasaan
eksekutif. Parlemen dibentuk yang perwakilannya dipilih dari
provinsi-provinsi negara. Para wakil kemudian membentuk
Pemerintahan Imperium Kesultanan Utsmaniyah.
Pemerintahan yang eklektik tampak jelas dalam surat-surat diplomatik kesultanan. Surat tersebut biasanya dikirim ke barat dalam
bahasa Yunani.
[100]
Tughra
adalah monogram kaligrafi atau tanda tangan para Sultan Utsmaniyah yang
jumlahnya 35 orang. Dipahat di lambang Sultan, tughra mengandung nama
Sultan dan ayahnya. Pernyataan dan doa "kemenangan abadi" juga dipahat
di kebanyakan lambang. Tughra pertama dimiliki oleh
Orhan Gazi. Tughra bergaya hiasan ini kelak merintis cabang
kaligrafi Utsmaniyah-Turki.
Hukum
Sistem hukum Utsmaniyah mengakui
hukum keagamaan atas rakyatnya. Pada saat yang sama,
Qanun (atau
Kanun), sistem hukum sekuler, diterapkan bersamaan dengan hukum keagamaan atau
Syariah.
[101] Kesultanan Utsmaniyah selalu disusun dengan sistem
yurisprudensi
lokal. Urusan hukum di Kesultanan Utsmaniyah adalah bagian dari skema
yang lebih besar untuk menyeimbangkan kewenangan pusat dan daerah.
[102] Kekuasaan Utsmaniyah lebih berkutat pada urusan hak tanah, sehingga pemerintah daerah diberi ruang untuk memenuhi kebutuhan
millet setempat.
[102] Rumitnya yurisdiksi Kesultanan Utsmaniyah bertujuan mencetuskan integrasi budaya dan agama dari kalangan yang berbeda.
[102]
Sistem Utsmaniyah memiliki tiga sistem pengadilan: satu untuk Muslim,
satu untuk non-Muslim yang melibatkan pejabat Yahudi dan Kristen yang
menguasai komunitas agamanya masing-masing, dan "pengadilan dagang".
Keseluruhan sistem ini diatur dari atas, yaitu
Qanun, i.e. hukum, sistem yang dibuat berdasarkan
Yassa dan
Töre Turk. Keduanya dikembangkan sebelum kemunculan Islam.
[rujukan?]
Kategori-kategori pengadilan ini tidak sepenuhnya eksklusif. Misal,
pengadilan Islam—pengadilan primer kesultanan—bisa dipakai untuk
menyelesaikan konflik atau sengketa perdagangan antara pihak yang
berbeda agama. Biasanya penuntut Yahudi dan Kristen memilih pengadilan
Islam agar mendapat putusan yang lebih kuat terhadap suatu masalah.
Negara Utsmaniyah tidak mencampuri sistem hukum keagamaan non-Muslim,
meski secara hukum punya hak untuk melakukannya melalui gubernur. Sistem
hukum
Syariah Islam terbentuk dari gabungan
Qur'an;
Hadīts, kumpulan perkataan
Muhammad;
ijmā', konsensus anggota
umat Islam;
qiyas,
sistem penalaran analogis dari peristiwa sebelumnya; dan adat setempat.
Kedua sistem diajarkan di dua sekolah hukum kesultanan, tepatnya di
Istanbul dan
Bursa.
Sistem hukum Islam Utsmaniyah berbeda dengan pengadilan tradisional Eropa. Pihak yang hadir di pengadilan Islam adalah
Qadi yang berarti hakim. Sejak penutupan
itjihad, atau "Gerbang Penafsiran", para
Qadi
di seluruh Kesultanan Utsmaniyah tidak terlalu fokus pada keputusan
hukum sebelumnya, melainkan pada adat setempat dan tradisi daerah tempat
mereka bekerja.
[103]
Sayangnya, sistem pengadilan Utsmaniyah tidak punya struktur pengadilan
banding, sehingga muncul strategi kasus hukum ketika si penuntut bisa
membawa kasusnya dari satu sistem pengadilan ke sistem yang lain sampai
mereka mendapatkan putusan yang sesuai harapan.
Contoh pengadilan Utsmaniyah, 1877 (lihat
rincian gambar untuk penjelasan)
Pada akhir abad ke-19, sistem hukum Utsmaniyah dirombak besar-besaran. Proses modernisasi hukum dimulai dengan
Dekrit Gülhane tahun 1839.
[104]
Reformasi tersebut mencakup "pengadilan adil di hadapan umum untuk
semua terdakwa tanpa memandang agamanya," pembentukan sistem "kompetensi
terpisah, agama dan sipil," dan pengakuan kesaksian non-Muslim.
[105] Hukum tanah (1858), hukum sipil (1869–1876), dan hukum prosedur sipil juga diberlakukan.
[105]
Reformasi hukum Utsmaniyah sangat dipengaruhi model Perancis. Ini
dapat dilihat dari penggunaan sistem pengadilan tiga tingkat. Sistem
bernama
Nizamiye ini diperluas hingga tingkat pengadilan lokal dengan penerapan akhir
Mecelle, yaitu hukum sipil yang mengatur pernikahan, perceraian, tunjangan, wasiat, dan status pribadi lainnya.
[105]
Untuk memperjelas pembagian kompetensi hukum, dewan pengurus menetapkan
bahwa segala urusan keagamaan diserahkan ke pengadilan agama dan urusan
status diserahkan ke pengadilan Nizamiye.
[105]
Militer
Kepala rumah tangga Sultan Murad IV dikawal
yanisari.
Pasukan ireguler Utsmaniyah di teritori Hongaria modern, dilukis tahun 1568
Satuan militer pertama Kesultanan Utsmaniyah adalah angkatan darat yang dibentuk oleh
Osman I
dari anggota suku di perbukitan Anatolia barat pada akhir abad ke-13.
Sistem militer pun berubah menjadi organisasi yang rumit seiring
kemajuan kesultanan. Militer Utsmaniyah merupakan sistem perekrutan dan
pertahanan yang kompleks. Korps utama
Angkatan Darat Utsmaniyah meliputi
Yanisari,
Sipahi,
Akıncı, dan
Mehterân.
Angkatan Darat Utsmaniyah pernah menjadi salah satu pasukan tempur
termaju di dunia karena termasuk di antara pengguna pertama senapan
lontak dan meriam. Pasukan Turk Utsmaniyah mulai memanfaatkan
falconet, meriam pendek namun lebar, saat
Pengepungan Konstantinopel.
Kavaleri Utsmaniyah bergantung pada kecepatan dan mobilitas tinggi
alih-alih persenjataan berat. Mereka menggunakan busur dan panah pendek
dengan kuda cepat
Turkoman dan
Arab (pencetus kuda balap
Thoroughbred),
[106][107] dan sering menerapkan taktik yang mirip dengan taktik
Kekaisaran Mongol,
seperti berpura-pura mundur sambil mengurung musuh dengan formasi bulan
sabit lalu melancarkan serangan. Kemunduran kinerja angkatan darat
semakin jelas sejak pertengahan abad ke-17 dan setelah Perang Turki
Besar. Pada abad ke-18, sempat muncul sedikit keberhasilan melawan
Venesia, tetapi pasukan Rusia bergaya Eropa di utara memaksa Kesultanan
Utsmaniyah menyerahkan teritorinya.
Modernisasi Kesultanan Utsmaniyah pada abad ke-19 dimulai oleh militer. Pada tahun 1826, Sultan
Mahmud II menghapus korps Yanisari dan membentuk angkatan darat modern Utsmaniyah. Pasukannya diberi nama
Nizam-ı Cedid
(Orde Baru). Angkatan Darat Utsmaniyah juga merupakan lembaga pertama
yang mempekerjakan tenaga ahli luar negeri dan mengirimkan para
perwiranya ke pusat pelatihan di negara-negara Eropa Barat. Karena itu
pula, gerakan
Turk Muda dirintis ketika para prajurit muda dan terlatih ini pulang ke negaranya.
Angkatan Laut Utsmaniyah
turut ambil bagian dalam perluasan wilayah kesultanan di benua Eropa.
Ekspansi ini berawal dari penaklukan Afrika Utara yang memasukkan
Aljazair dan
Mesir ke Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1517. Sejak kehilangan Aljazair (1830 dan
Yunani (1821), kekuatan laut dan kendali Utsmaniyah atas jajahan-jajahannya di seberang laut mulai melemah. Sultan
Abdülaziz
(berkuasa 1861–1876) berusaha membangun angkatan laut yang kuat dengan
membuat armada terbesar ketiga di dunia setelah Britania Raya dan
Perancis. Galangan kapal di Barrow, Inggris, membangun
kapal selam pertamanya untuk Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1886.
[108]
Meski begitu, ekonomi Utsmaniyah yang melemah tidak dapat mempertahankan armada laut dalam jangka panjang. Sultan
Abdülhamid II tidak mempercayai para laksamana yang memihak dengan reformis
Midhat Pasha. Sultan mengklaim bahwa armada yang besar dan mahal tidak berguna untuk melawan Rusia saat
Perang Rusia-Turki. Ia mengunci sebagian besar armadanya di dalam
Tanjung Emas dan membiarkan kapalnya berkarat selama 30 tahun berikutnya. Setelah
Revolusi Turk Muda tahun 1908,
Komite Persatuan dan Kemajuan berupaya mengembangkan pasukan laut yang kuat.
Yayasan Angkatan Laut Utsmaniyah didirikan pada tahun 1910 untuk membeli kapal-kapal baru melalui sumbangan masyarakat.
Sejarah
penerbangan militer Utsmaniyah dapat dilacak hingga tahun 1909 antara Juni 1909 dan Juli 1911.
[109][110] Kesultanan Utsmaniyah mulai mempersiapkan para pilot dan pesawat pertamanya. Melalui pendirian Sekolah Penerbangan (
Tayyare Mektebi) di
Yeşilköy
tanggal 3 Juli 1912, pemerintah mulai mengajar penerbangnya sendiri.
Pendirian Sekolah Penerbangan mempercepat kemajuan program penerbangan
militer, menambah jumlah perwira terdaftar, dan memberi pilot-pilot baru
peran aktif di
Angkatan Darat dan
Angkatan Laut Utsmaniyah.
Bulan Mei 1913, Program Latihan Pengintaian khusus pertama di dunia
dirintis oleh Sekolah Penerbangan dan divisi pengintaian terpisah
pertama dibentuk
[rujukan?]. Bulan Juni 1914, akademi militer yang baru, yaitu Sekolah Penerbangan Angkatan Laut (
Bahriye Tayyare Mektebi), didirikan. Dengan pecahnya Perang Dunia I, proses modernisasi berhenti mendadak.
Skadron penerbangan Utsmaniyah bertempur di berbagai front selama Perang Dunia I, mulai dari
Galisia di barat hingga
Kaukasus di timur dan
Yaman di selatan.
Pembagian administratif
Kesultanan Utsmaniyah awalnya terbagi menjadi beberapa provinsi pada
akhir abad ke-14. Provinsi artinya unit-unit teritorial tetap yang
gubernurnya ditunjuk oleh sultan, pada akhir abad ke-14.
[111]
Eyalet (disebut juga pashalic atau beglerbeglic) merupakan teritori kerja seorang
beylerbeyi. Teritori ini dibagi lagi menjadi beberapa
sanjak.
[112]
Vilayet diperkenalkan melalui pengesahan "Hukum Vilayet" (
bahasa Turki:
Teskil-i Vilayet Nizamnamesi)
[113] pada tahun 1864 sebagai bagian dari reformasi tanzimat.
[114] Tidak seperti sistem eyalet sebelumnya, hukum tahun 1864 ini menetapkan hierarki satuan administratif: vilayet,
liva/
sanjak,
kaza, dan
dewan desa. Hukum Vilayet tahun 1871 menambahkan
nahiye di antara kaza dan desa.
[115]
Ekonomi
Pemerintahan Utsmaniyah menerapkan kebijakan pengembangan Bursa,
Adrianopel, dan Istanbul (semuanya adalah ibu kota Utsmaniyah) menjadi
pusat perdagangan dan industri besar karena para pedagang dan pengrajin
memainkan peran besar dalam pembentukan metropolis baru.
[116]
Sampai saat itu, Mehmed dan penggantinya, Bayezid, juga mendorong dan
menerima migrasi kaum Yahudi dari berbagai daerah di Eropa. Mereka
menetap di Istanbul dan kota-kota pelabuhan seperti Salonica. Di
sejumlah tempat di Eropa, kaum Yahudi ditindas oleh penduduk Kristen.
Toleransi yang dimiliki bangsa Turk disambut hangat oleh para imigran.
Dasar ekonomi Utsmaniyah sangat terkait dengan konsep dasar negara
dan masyarakat Timur Tengah. Tujuan utama negara waktu itu adalah
memperkuat dan memperluas kekuasaan pemimpin. Cara untuk meraihnya
adalah mendapatkan sumber pendapatan yang banyak dengan menyejahterakan
kelas pekerja.
[117]
Tujuan utamanya adalah meningkatkan pendapatan negara tanpa mengacaukan
kemakmuran rakyatnya demi mencegah kerusuhan dan melindungi tatanan
masyarakat tradisional.
Susunan badan keuangan dan bendahara berkembang lebih baik di
Kesultanan Utsmaniyah ketimbang pemerintahan Islam lainnya. Pada abad
ke-17, organisasi keuangan Utsmaniyah merupakan yang paling maju
dibandingkan organisasi keuangan lainnya saat itu.
[99] Organisasi ini mengembangkan birokrasi juru tulis (dikenal dengan sebutan "
men of the pen") sebagai kelompok terpisah yang separuhnya diisi
ulama yang sangat berpengalaman. Kelompok tersebut kemudian berkembang menjadi lembaga profesional.
[99] Keefektifan lembaga keuangan profesional berada di balik kesuksesan para negarawan besar Utsmaniyah.
[118]
Struktur ekonomi kesultanan ditentukan oleh struktur geopolitiknya.
Kesultanan Utsmaniyah berada di antara dunia Barat dan Timur, sehingga
menghalangi rute darat ke timur dan memaksa penjelajah Spanyol dan
Portugal untuk berlayar mencari rute baru ke timur. Kesultanan
mengendalikan rute rempah yang dulu digunakan
Marco Polo. Ketika
Vasco da Gama menelikung rute Utsmaniyah dan membuat rute dagang langsung ke India tahun 1498, dan
Christopher Columbus berlayar ke Bahama tahun 1492, Kesultanan Utsmaniyah berada pada puncak kejayaannya.
Studi Utsmaniyah modern berpendapat bahwa perubahan hubungan antara
Turki Utsmaniyah dan Eropa Tengah tercipta oleh pembukaan rute laut yang
baru. Sejarawan bisa saja menganggap penurunan lalu lintas darat ke
timur setelah Eropa Barat membuka rute laut yang menjauhi Timur Tengah
dan Mediterania paralel terhadap kemunduran Kesultanan Utsmaniyah itu
sendiri.
Perjanjian Inggris-Utsmaniyah, disebut juga
Perjanjian Balta Liman,
yang membuka pasar Utsmaniyah ke para pesaingnya di Inggris dan
Perancis dapat dipandang sebagai salah satu tantangan perkembangan
ekonomi Utsmaniyah.
Dengan mengembangkan pusat dan rute perdagangan, mendorong rakyat
memperluas lahan pertanian di negara itu, dan mendorong perdagangan
internasional melalui jajahannya, pemerintah berhasil melaksanakan
fungsi ekonomi dasar di seluruh Kesultanan Utsmaniyah. Meski begitu,
kepentingan keuangan dan politik negara lebih dominan. Dalam sistem
sosial dan politik yang mereka jalankan, para pejabat Utsmaniyah tidak
paham atau tidak sadar dengan tuntutan dinamika dan prinsip ekonomi
kapitalis dan merkantil yang saat itu sedang berkembang di Eropa Barat.
[119]
Demografi
Populasi Kesultanan Utsmaniyah diperkirakan berjumlah 11.692.480 jiwa
pada 1520–1535. Angka ini diperoleh dengan menghitung jumlah keluarga
di catatan sumbangan Utsmaniyah, lalu dikali 5.
[120] Atas alasan yang belum jelas, jumlah penduduk abad ke-18 lebih sedikit ketimbang abad ke-16.
[121]
Perkiraan 7.230.660 jiwa untuk sensus pertama tahun 1831 dianggap
terlalu sedikit karena sensus ini bertujuan menghitung potensi wajib
militer.
[120]
Sensus di teritori Utsmaniyah baru dimulai pada awal abad ke-19.
Hasil sensus dari tahun 1831 sampai seterusnya tersedia resmi, tetapi
sensusnya tidak mencakup seluruh penduduk. Misal, sensus 1831 hanya
menghitung pria dan tidak meliputi seluruh wilayah kesultanan.
[120] Untuk periode-periode sebelumnya, perkiraan ukuran dan persebaran penduduk didasarkan pada pola demografi yang teramati.
[122]
Jumlah penduduknya mulai naik hingga 25–32 juta jiwa pada 1800. 10 juta di antaranya di provinsi-provinsi Eropa (kebanyakan di
Balkan),
11 juta di provinsi Asiatik, dan 3 juta di provinsi Afrika. Kepadatan
penduduk tertinggi ada di provinsi Eropa, dua kali lipatnya Anatolia,
tiga kali lipatnya Irak dan
Suriah, dan lima kali lipatnya Arabia.
Menjelang pembubaran kesultanan, angka
harapan hidup mencapai 49 tahun, lebih tinggi dibandingkan 20 tahunan di Serbia pada awal abad ke-19. Wabah penyakit dan
kelaparan
mengakibatkan gangguan besar dan perubahan demografi. Pada tahun 1785,
sekitar seperenam penduduk Mesir meninggal akibat wabah dan penduduk
Aleppo berkurang 20% pada abad ke-18. Enam kelaparan melanda Mesir
antara 1687 dan 1731 dan kelaparan terakhir melanda Anatolia empat
dasawarsa kemudian.
Kebangkitan kota-kota pelabuhan memunculkan pengelompokan penduduk
yang didorong oleh pengembangan kapal uap dan kereta api. Urbanisasi
meningkat dan kota-kota besar maupun kecil tumbuh pada 1700–1922.
Perbaikan kesehatan dan sanitasi membuat kota-kota tersebut menarik
perhatian para pendatang untuk menetap dan bekerja. Kota-kota pelabuhan
seperti Salonica di Yunani mengalami peningkatan populasi dari 55.000
jiwa tahun 1800 menjadi 160.000 pada tahun 1912. Populasi Izmir tumbuh
dari 150.000 jiwa tahun 1800 menjadi 300.000 pada tahun 1914.
[127]
Beberapa daerah mengalami penurunan populasi, seperti Belgrade yang
jumlah penduduknya turun dari 25.000 jiwa menjadi 8.000 jiwa dikarenakan
perselisihan politik.
Migrasi ekonomi dan politik memberi pengaruh besar bagi seluruh
kesultanan. Contohnya, aneksasi Krimea dan Balkan secara berturut-turut
oleh
Rusia
dan Austria-Habsburg mengakibatkan migrasi pengungsi Muslim dalam
jumlah besar. 200.000 penduduk Tatar Krimea mengungsi ke Dobruja.
Antara 1783 dan 1913, sekira 5–7 juta pengungsi membanjiri Kesultanan
Utsmaniyah, 3,8 juta di antaranya berasal dari Rusia. Beberapa migrasi
meninggalkan tanda yang bertahan lama, seperti ketegangan politik antara
wilayah-wilayah kesultanan (e.g. Turki dan Bulgaria) Dampak memusat
terlihat di daerah lain, seperti demografi sederhana yang muncul dari
keragaman penduduk. Ekonomi juga terpukul akibat berkurangnya pengrajin,
pedagang, produsen, dan petani. Sejak abad ke-19, penduduk Muslim secara besar-besaran eksodus ke Turki modern dari Balkan. Mereka disebut
Muhacir sesuai definisi umum.
[130][halaman dibutuhkan] Ketika Kesultanan Utsmaniyah berakhir tahun 1922, separuh penduduk kota Turki adalah keturunan pengungsi Muslim dari Rusia.
[68]
Bahasa
Bahasa Turki Utsmaniyah adalah bahasa resmi kesultanan. Ini adalah
bahasa Turk yang sangat dipengaruhi
bahasa Persia dan Arab. Kesultanan Utsmaniyah memiliki beberapa bahasa berpenaruh: Turki, dituturkan oleh mayoritas penduduk
Anatolia dan mayoritas Muslim Balkan selain di
Albania dan
Bosnia;
Persia, hanya dituturkan warga berpendidikan;
[131] Arab, banyak dituturkan di
Arabia, Afrika Utara,
Irak, Kuwait,
Levant, dan sebagian
Tanduk Afrika; dan
Somali di seluruh
Tanduk Afrika.
Dalam dua abad terakhir, pemakaian bahasa-bahasa tersebut bersifat
terbatas dan spesifik. Bahasa Persia, misalnya, cenderung digunakan
sebagai bahasa buku untuk warga berpendidikan,
[131] sedangkan
bahasa Arab dipakai untuk ibadah.
Bahasa Turki,
dengan variasi Utsmaniyah, merupakan bahasa militer dan pemerintahan
sejak awal pendirian Kesultanan Utsmaniyah. Konstitusi Utsmaniyah 1876
menetapkan status bahasa Turki sebagai bahasa resmi kesultanan.
[132]
Dikarenakan tingkat melek huruf yang rendah (sekitar 2–3% sampai awal abad ke-19 dan 15% pada akhir abad ke-19),
[rujukan?] rakyat jelata perlu mempekerjakan
juru tulis sebagai "penulis permintaan khusus" (
arzuhâlci) supaya bisa berkomunikasi dengan pemerintah.
[133] Sejumlah suku bangsa berbicara dengan keluarganya atau anggota permukimannya (
mahalle)
menggunakan bahasanya sendiri (e.g. Yahudi, Yunani, Armenia, dll). Di
desa-desa tempat dua orang atau lebih tinggal bersama, penduduknya
berbicara menggunakan bahasa lawan bicaranya. Di kota kosmopolitan,
orang-orang cenderung menuturkan bahasa keluarganya dan banyak warga
non-
Turk yang menuturkan bahasa Turki sebagai bahasa kedua.
Agama
Dalam sistem Kesultanan Utsmaniyah, walaupun ada kekuasaan hegemon
Muslim atas penduduk non-Muslim, komunitas non-Muslim mendapat pengakuan
dan perlindungan negara sesuai tradisi Islam.
[134]
Sampai paruh kedua abad ke-15, penduduk kesultanan ini didominasi penganut Kristen dan dipimpin minoritas Muslim.
[102]
Pada akhir abad ke-19, populasi non-Muslim mulai berkurang drastis,
bukan karena kehilangan wilayah saja, tetapi juga perpindahan penduduk.
[134] Persentase Muslim naik menjadi 60% pada 1820-an, lalu perlahan naik ke 69% pada 1870-an, dan 76% pada 1890-an.
[134]
Per 1914, hanya 19,1% penduduk kesultanan yang beragama non-Islam.
Kebanyakan di antaranya adalah Kristen Yunani, Assyria, Armenia, dan
Yahudi.
[134]
Islam
Suku-suku Turk mempraktikkan macam-macam bentuk
shamanisme sebelum memeluk Islam. Pengaruh Abbasiyah di Asia Tengah diperkuat oleh suatu proses yang sangat dipengaruhi kemenangan
Abbasiyah pada
Pertempuran Talas melawan
Dinasti Tang Cina tahun 751. Setelah pertempuran ini, banyak suku Turk—termasuk
Turk Oghuz, leluhur Seljuk dan Utsmani—perlahan memeluk Islam dan menyebarkannya ke Anatolia pada abad ke-11.
Sekte-sekte Muslim yang dianggap sesat, seperti
Druze,
Ismaili dan
Alawi, ditempatkan di bawah penganut Yahudi dan Kristen.
[136] Pada tahun 1514, Sultan
Selim I, yang dijuluki "Pencabut Nyawa" karena kekejamannya, memerintahkan pembantaian 40.000
Alevi Anatolia (
Qizilbash) yang ia anggap sesat.
[137] Ia kabarnya berkata bahwa "membunuh seorang Alevi pahalanya setara dengan membunuh 70 orang Kristen."
[138][halaman dibutuhkan]
Kristen dan Yudaisme
Di Kesultanan Utsmaniyah, sesuai sistem
zimmi Islam, umat Kristen diberi kebebasan terbatas (seperti hak beribadah), namun diperlakukan seperti
warga kelas dua.
Umat Kristen dan Yahudi tidak dianggap setara dengan Muslim. Kesaksian
melawan terdakwa Muslim oleh seorang Kristen dan Yahudi tidak dianggap
sah di pengadilan.
[rujukan?]
Mereka dilarang membawa senjata atau menunggangi kuda, rumah mereka
tidak boleh menghadap rumah Muslim, dan praktik ibadahnya harus berbeda
dengan praktik ibadah Islam Selain itu masih banyak batasan-batasan
legal lainnya.
[139]
Dalam sistem yang umum dikenal dengan nama
devşirme,
sejumlah putra Kristen, kebanyakan dari Balkan dan Anatolia, secara
rutin diharuskan mengikuti wajib militer sebelum dewasa, lalu dibesarkan
sebagai seorang Muslim.
[140]
Di bawah sistem
millet, warga non-Muslim wajib mematuhi hukum kesultanan, namun tidak wajib mematuhi hukum Islam.
Millet Ortodoks secara hukum masih resmi patuh kepada
Kode Justinian, hukum yang berlaku di Kekaisaran Romawi Timur selama 900 tahun. Selain itu, sebagai kelompok non-Muslim terbesar (atau
zimmi) di negara Utsmaniyah Islam,
millet
Ortodoks mendapatkan hak-hak istimewa di bidang politik dan perdagangan
serta diwajibkan membayar pajak yang lebih tinggi daripada Muslim.
[141][142]
Millet serupa ditetapkan untuk komunitas Yahudi Utsmaniyah yang berada di bawah kewenangan
Haham Başı atau
kepala rabbi Utsmaniyah; komunitas
Ortodoks Armenia yang berada di bawah kewenangan kepala uskup; dan berbagai komunitas agama lainnya. Sistem
millet dalam
hukum Islam diakui luas sebagai contoh awal
pluralisme agama pra-modern.
[143]
Budaya
Kesultanan Utsmaniyah menyerap sejumlah tradisi, seni, dan institusi
budaya di daerah-daerah yang mereka taklukkan, lalu menambahkan dimensi
baru ke dalamnya. Berbagai tradisi dan kebudayaan imperium sebelumnya
(dalam bidang arsitektur, masakan, musik, hiburan, dan pemerintahan)
diadopsi oleh bangsa Turk Utsmaniyah. Bangsa Turk kemudian mengubahnya
ke bentuk-bentuk baru dan menciptakan identitas budaya Utsmaniyah yang
baru dan sangat berbeda. Pernikahan antarbudaya juga berperan dalam
menciptakan budaya elit Utsmaniyah. Jika dibandingkan dengan budaya
rakyat Turki, pengaruh budaya baru dalam membentuk budaya elit
Utsmaniyah sangat jelas terlihat.
Perbudakan adalah bagian dari masyarakat Utsmaniyah.
[144] Budak wanita masih dijual di kesultanan sampai tahun 1908.
[145]
Selama abad ke-19, kesultanan didesak negara-negara Eropa untuk
menghapuskan praktik perbudakan. Para sultan pun mengembangkan kebijakan
yang bertujuan menghambat
perdagangan budak,
tetapi karena perbudakan mendapat dukungan dan sanksi agama selama
berabad-abad, kebijakan tersebut tidak pernah menghapus perbudakan
secara langsung.
[rujukan?]Wabah
masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat Utsmaniyah sampai
kuartal kedua abad ke-19. Antara 1701 dan 1750, 37 epidemi besar dan
kecil tercatat di Istanbul. Antara 1751 dan 1801, terjadi 31 epidemi di
kota yang sama.
[146]
Sastra
Dua aliran utama sastra tulis Utsmaniyah adalah syair dan
prosa.
Syair sejauh ini merupakan aliran dominan. Sampai abad ke-19, prosa
Utsmaniyah tidak mengandung fiksi. Tidak ada karya yang sebanding dengan
roman, cerita pendek, atau novel Eropa. Genre yang serupa memang ada, namun dalam bentuk
sastra rakyat Turki dan
syair Divan.
Syair Divan
adalah bentuk seni yang sangat diritualkan dan simbolis. Dari syair
Persia yang menginspirasinya, syair Divan mewarisi banyak simbol yang
makna dan keterkaitannya—baik persamaan (مراعات نظير mura'ât-i nazîr /
تناسب tenâsüb) maupun perbedaannya (تضاد tezâd) dijelaskan secara
gamblang atau sederhana. Syair Divan disusun melalui pencampuran konstan
beberapa gambar di dalam kerangka kerja metrik yang ketat, sehingga
muncul banyak kemungkinan makna. Kebanyakan syair Divan berbentuk
lirik, baik
gazel
(membentuk bagian terbesar dari repertoar tradisi ini) maupun kasîdes.
Ada pula genre-genre umum lainnya, salah satunya adalah mesnevî, sejenis
roman baris dan berbagai macam
puisi narasi. Dua contoh mesnevî yang terkenal adalah
Leyli dan Majnun karya
Fuzûlî dan
Hüsn ü Aşk karya
Şeyh Gâlib.
Sampai abad ke-19,
Prosa Utsmaniyah
tidak berkembang sampai sejauh syair Divan kontemporer. Salah satu
alasan utamanya adalah banyak prosa yang harus mematuhi aturan sec (سجع,
juga ditransliterasikan menjadi seci), atau
prosa berima,
[147] jenis penulisan yang diturunkan dari
saj' Arab yang mensyaratkan adanya
rima antara setiap kata sifat dan
kata benda
dalam suatu rangkaian kata, seperti kalimat. Karena itu, muncullah
sebuah tradisi prosa dalam sastra waktu itu meski sifatnya non-fiksi.
Contoh pengecualiannya adalah
Muhayyelât karya
Giritli Ali Aziz Efendi, kumpulan cerita fantastis yang ditulis tahun 1796 dan baru diterbitkan tahun 1867.
Dikarenakan hubungan historis yang dekat dengan Perancis,
sastra Perancis
menajdi bagian dari pengaruh besar Barat terhadap sastra Utsmaniyah
sepanjang paruh akhir abad ke-19. Akibatnya, banyak aliran di Perancis
waktu itu yang juga muncul di Kesultanan Utsmaniyah. Misalnya, dalam
perkembangan tradisi prosa Utsmaniyah, pengaruh
Romantisisme dapat dilihat saat periode Tanzimat, dan pengaruh aliran
Realis dan
Naturalisme muncul pada periode selanjutnya. Dalam tradisi syair, pengaruh
Simbolis dan
Parnassian lebih mencolok.
Banyak penulis pada period Tanzimat menulis dalam beberapa genre secara bersamaan. Misalnya, penyair
Namik Kemal menulis novel penting İntibâh ("Kebangkitan") tahun 1876, sedangkan jurnalis
İbrahim Şinasi dikenal karena menulis lakon Turki modern pertama pada tahun 1860, yaitu komedi
satu babak "Şair Evlenmesi" ("Pernikahan sang Penyair"). Lakon sebelumnya, yaitu
farse
berjudul "Vakâyi'-i 'Acibe ve Havâdis-i Garibe-yi Kefşger Ahmed"
("Peristiwa Aneh dan Kejadian Mengherankan Ahmed si Tukang Sepatu"),
dibuat pada awal abad ke-19, namun keotentikannya masih diragukan.
Dengan semangat yang sama, novelis
Ahmed Midhat Efendi
menulis novel-novel penting untuk setiap aliran besar: Romantisisme
(Hasan Mellâh yâhud Sırr İçinde Esrâr, 1873; "Hasan si Pelaut, atau
Misteri di Dalam Misteri"), Realisme (Henüz On Yedi Yaşında, 1881; "Baru
Tujuh Belas Tahun"), dan Naturalisme (Müşâhedât, 1891; "Pengamatan").
Keragaman ini separuhnya didorong keinginan para penulis Tanzimat yang
ingin menyertakan sastra baru sebanyak mungkin dengan harapan bisa
menyumbang revitalisasi
struktur sosial Utsmaniyah.
[148]
Arsitektur
Arsitektur Utsmaniyah dipengaruhi oleh arsitektur
Persia,
Yunani Bizantium, dan
Islam. Pada
masa kebangkitan,
muncul periode arsitektur Utsmaniyah awal atau pertama dan kesenian
Utsmaniyah sedang dalam tahap pencarian ide-ide baru. Pada
masa perkembangan, muncul periode arsitektur klasik dan kesenian Utsmaniyah sedang jaya-jayanya. Pada
masa kemandekan, arsitektur Utsmaniyah menjauh dari gaya klasik.
Sepanjang
Era Tulip, arsitektur Utsmaniyah dipengaruhi oleh gaya ornamen tinggi Eropa Barat;
Barok,
Rococo,
Empire, dan gaya-gaya lain saling bercampur. Konsep arsitektur Utsmaniyah lebih berpusat pada
masjid. Masjid adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat,
tata kota, dan kehidupan komunal. Selain masjid, contoh sempurna arsitektur Utsmaniyah dapat ditemukan di
dapur sup, sekolah teologi, rumah sakit,
pemandian Turki, dan pemakaman.
Contoh arsitektur Utsmaniyah dari periode klasik selain Istanbul dan
Edirne
juga dapat ditemukan di Mesir, Eritrea, Tunisia, Algiers, Balkan, dan
Rumania. Di sana banyak masjid, jembatan, air mancur, dan sekolah
Utsmaniyah. Seni dekorasi Utsmaniyah berkembang seiring banyaknya
pengaruh dikarenakan keragaman etnik di Kesultanan Utsmaniyah. Para
pengrajin memperkaya Kesultanan Utsmaniyah dengan pengaruh seni
pluralistik, seperti mencampurkan
seni Bizantium tradisional dengan elemen-elemen
seni Cina.
[149]
Seni dekorasi
Tradisi
miniatur Utsmaniyah yang dilukis untuk mengilustrasikan manuskrip atau dipakai pada album-album khusus sangat dipengaruhi oleh kesenian
Persia. Meski begitu, miniatur Utsmaniyah juga melibatkan sejumlah elemen tradisi
penerangan dan lukisan
Bizantium.
[rujukan?] Akademi pelukis Yunani,
Nakkashane-i-Rum, didirikan di
Istana Topkapi pada abad ke-15. Pada awal abad selanjutnya, akademi Persia bernama
Nakkashane-i-Irani didirikan.
Penerangan Utsmaniyah mencakup seni lukis non-figur atau seni dekorasi gambar di buku atau lembar
muraqqa atau album, berbeda dengan gambar figur
miniatur Utsmaniyah. Penerangan, miniatur (
taswir), kaligrafi (
hat),
kaligrafi Islam, penjilidan buku (
cilt), dan
pemarbelan kertas (
ebru) adalah bagian dari seni buku Utsmaniyah. Di Kesultanan Utsmaniyah,
manuskrip terang dan berilustrasi dibuat atas perintah sultan atau pejabat pemerintahan. Di
Istana Topkapi, manuskrip-manuskrip tersebut dibuat oleh para seniman yang bekerja di
Nakkashane, pusat seniman miniatur dan penerangan. Buku-buku keagamaan dan non-keagamaan dapat diterangi. Lembaran album
levha terdiri dari kaligrafi terang (
hat)
tughra, teks keagamaan, petikan syair atau peribahasa, dan gambar dekorasi.
Seni
pemintalan
karpet sangat berkembang di Kesultanan Utsmaniyah. Karpet memiliki
nilai tinggi baik sebagai perlengkapan dekorasi yang kaya akan
simbolisme agama dan lainnya maupun sebagai pertimbangan praktis, karena
penduduk harus melepas sepatu sebelum memasuki rumah.
[150] Pemintalan karpet berawal dari budaya
nomaden
Asia Tengah (karpet adalah bentuk perlengkapan yang mudah dibawa), lalu
menyebar ke masyarakat Anatolia yang sudah menetap. Bangsa Turk memakai
karpet, permadani, dan
kilim
tidak hanya untuk alas ruangan, tetapi juga gantungan di dinding dan
lorong agar berfungsi sebagai insulasi tambahan. Karpet juga sering
disumbangkan ke
masjid dan karena itu masjid umumnya punya banyak koleksi karpet.
[151]
Seni pertunjukan
Musik klasik Utsmaniyah
adalah bagian penting dari pendidikan kaum elit Utsmaniyah. Sejumlah
sultan Utsmaniyah adalah musisi dan komponis besar, seperti
Selim III yang komposisinya masih dimainkan sampai sekarang. Musik klasik Utsmaniyah sebagian besar berasal dari gabungan
musik Bizantium,
musik Armenia,
musik Arab, dan
musik Persia. Dari komposisinya, musik Utsmaniyah memanfaatkan satuan ritme bernama
usul, agak mirip dengan
meter di musik Barat, dan satuan
melodi bernama
makam, mirip-mirip dengan
mode musik Barat.
Instrumen yang dipakai adalah campuran instrumen Anatolia dan Asia Tengah (
saz,
bağlama,
kemence), instrumen Timur Tengah lainnya (
ud,
tanbur,
kanun,
ney),
dan instrumen Barat (biola dan piano). Instrumen Barat baru disertakan
terakhir. Karena perbedaan geografis dan budaya antara ibu kota dan
daerah lainnya, dua gaya musik yang sangat berbeda pun muncul di
Kesultanan Utsmaniyah, yaitu musik klasik Utsmaniyah dan musik rakyat.
Di provinsi-provinsinya, berbagai macam
musik rakyat terbentuk. Wilayah yang gaya musiknya paling dominan adalah: Türküs Balkan-Thracia, Türküs Timur Laut (
Laz), Türküs Aegea, Türküs Anatolia Tengah, Türküs Anatolia Timur, dan Türküs Kaukasus. Beberapa gaya musiknya adalah:
musik Yanisari,
musik Roma,
tari perut, dan
musik rakyat Turki.
Lakon bayangan tradisional bernama
Karagöz dan Hacivat
tersebar ke seluruh Kesultanan Utsmaniyah dan menampilkan tokoh-tokoh
yang mewakili semua etnik dan kelompok sosial besar dalam budaya
tersebut.
[152][153] Lakon ini dipentaskan oleh seorang pewayang yang juga mengisi suara semua tokoh dan diiringi tamborin (
def). Asal usulnya tidak jelas, mungkin dari tradisi Mesir atau Asia.
Masakan
Wanita Turki memanggang roti, 1790
Masakan Utsmaniyah mengacu pada masakan ibu kota
Istanbul
dan ibu kota regional, tempat percampuran budaya menghasilkan maskaan
bersama yang dinikmati seluruh penduduk. Masakan yang beragam ini
disiapkan di dapur Istana Kesultanan oleh koki yang dibawa dari berbagai
daerah kesultanan untuk menciptakan dan bereksperimen dengan bermacam
bahan.
Hasil racikan dapur Istana Utsmaniyah disaring ke masyarakat, misalnya ketika
Ramadan atau proses masak di
Yalı para
Pasha resepnya menyebar sendiri dari sana ke masyarakat. Hari ini, masakan Utsmaniyah masih ada di
Turki,
Balkan, dan Timur Tengah. Ini adalah "warisan bersama berupa sesuatu
yang dulunya merupakan gaya hidup Utsmaniyah, dan masakan-masakan mereka
adalah bukti kuat fakta ini".
[154]
Biasanya masakan hebat manapun di dunia tercipta dari variasi lokal
dan pertukaran dan pengayaan bersama yang terjadi di dalamnya, namun
pada saat yang sama terhomogenisasi dan terharmonisasi oleh tradisi
perbaikan citarasa metropolitan.
[154]
Sains dan teknologi
Sepanjang sejarah Kesultanan Utsmaniyah, masyarakatnya berusaha
membangun perpustakaan besar yang dilengkapi buku terjemahan dari
peradaban lain dan manuskrip asli.
[27] Sebagian besar permintaan manuskrip lokal dan asing muncul pada abad ke-15.
Sultan Mehmet II memerintahkan
Georgios Amirutzes, seorang cendekiawan Yunani dari
Trabzon, untuk menerjemahkan dan menyebarkan buku geografi
Ptolomeus ke lembaga-lembaga pendidikan Utsmaniyah. Contoh lainnya adalah
Ali Qushji,
astronom,
matematikawan, dan
fisikawan dari
Samarkand,
yang menjadi profesor di dua madrasah dan berhasil memengaruhi
pemerintah Utsmaniyah melalui tulisan-tulisannya dan aktivitas muridnya.
Ia hanya menghabiskan dua atau tiga tahun di Kesultanan Utsmaniyah
sebelum meninggal dunia di Istanbul.
[155]
Taqi al-Din membangun
Observatorium Taqi al-Din Istanbul pada tahun 1577. Ia melakukan pengamatan astronomi di sana sampai 1580. Ia menghitung
eksentrisitas orbit Matahari dan pergerakan tahunan
apogeo.
[156] Observatoriumnya diruntuhkan tahun 1580
[157] karena bangkitnya faksi ulama yang menentang atau setidaknya tidak acuh terhadap sains.
[158]
Pada tahun 1660, cendekiawan Utsmaniyah
Ibrahim Efendi al-Zigetvari Tezkireci menerjemahkan karya astronomi
Noël Duret yang ditulis tahun 1637 ke bahasa Arab.
[159]
Şerafeddin Sabuncuoğlu adalah penulis atlas bedah pertama dan
ensiklopedia kedokteran besar terakhir dari dunia Islam. Meski sebagian besar karyanya didasarkan pada
Al-Tasrif karya
Abu al-Qasim al-Zahrawi, Sabuncuoğlu memperkenalkan banyak inovasinya sendiri. Dokter bedah wanita diilustrasikan untuk pertama kalinya.
[160]
Contoh jam yang mengukur waktu dalam hitungan menit dibuat oleh seorang pengrajin jam Utsmaniyah,
Meshur Sheyh Dede, pada tahun 1702.
[161]
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah